Free Website

Memaparkan catatan dengan label 60an. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label 60an. Papar semua catatan

Jumaat, 2 April 2010

Tenung-Tenung Renung-Renung

( P: )
Hendak ke baruh menjemur padi
Tetapi hampa padi sebendang
Hendah bertaruh ya tuan segunung budi
Rupalah juga ya tuan dicarilah orang

( L: )
Memang berliku jalan ke paya
Burung serindit di hujung dahan
Memang begitu di dunia resam di dunia
Rupa yang cantik hai orang dicarilah orang

( 1 )
( L&P: )
Belacu kainlah belacu
Nasib cuma dijeling saja
Sutera kainlah sutera
Rebutan menjadi rebutan

( 2 )
( L&P: )
Merindu nasiblah merindu
Bertepuk hai sebelah saja
Bercinta nasiblah bercinta
Tidak kesampaian

( P: )
Ingin kusuluh bulan nan tinggi
Sayangnya bulan disaput awan
Hingga bercumbu ya tuan hingga ke mati
Sayangnya diri bukanlah pilihan

( L: )
Kalau selisih di hujung titi
Jangan di kayu retak seribu
Kalau dah kasih di hati lucut di hati
Janganlah lagi merayu duduk merayu

( ulang 1 & 2 )

( P: )
Salah ditunjuk padi seberang
Sangka berbuah tidak berbuah
( L: )
Salah dirajuklah sayang orang tak sayang
Merana jiwa tak sudah merana tak sudah

( P: )
Hamba merindu bunga di taman
Sayang mekarnya tidak ke senja
( L: )
Kalau begitu hai tuan suratan Tuhan
Mungkin dah jodoh hai tiba belumlah tiba

( ulang 1 & 2 ) 



Dendang Pusaka

( M. Daud Kilau: )
Berpantun marilah berpantun
Berpantun kias seloka
Mengalun marilah mengalun
Mengalun lagulah lama
Hai canggungnya langkah
Adat bermula orang menari
Kalau sumbang lagu
Adat bermula orang menyanyi

( Duet: )
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka

( Syura: )
Berdendang hambalah berdendang
Berdendang irama lama
Berlenggang hambalah berlenggang
Berlenggang tari yang lama
Hai mudanya hamba
Setampuk pinang darah yang ada
Kalau salah sumbang minta ditunjuk
Mana yang kurang

( Duet: )
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka

( M. Daud Kilau: )
Janganlah merasa janganlah
Hai diri rendahlah diri
Berkenan kalaulah berkenan
Bersama kita menyanyi
Suburlah budaya jangan terlambat
Tempat jatuhnya
Yang tua dan muda menjulang tinggi
Budaya bangsa

( Duet: )
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka

( Syura: )
Begitu kalaulah begitu
Di hati senang di hati
Berlagu dapatlah berlagu
Denganlah tuan bistari
Hai baru dan lama
Menjulang tinggi budaya bangsa
Wariskanlah hamba senyum sejati
Tinggi nilainya

( Duet: )
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang mari berdendang
Dendang pusaka
Melangkah ke kiri dan ke kanan
Ikutlah tari ikutlah gendang
Berdendang kita berdendang
Dendang pusaka


 

Anakku Yang Pertama

Kini aku gembira
Yang ku tunggu dah tiba
Anakku lahir sudah
Hai anakku yang pertama

Sungguh cantik rupanya
Lirik wajah ibunya
Betapa bahagia
Hai dengan kehadirannya

Kan kujadikan raja
Di dalam rumahtangga
Kucurahkan semua
Hanya untuk mu saja

Buah hati wahai permata
Besarlah kau segera
Anakku yang pertama
Riang tiada terkira
Bila ku memandangnya
Hai anakku yang pertama

Maaf

Berakhirku di pintu besi
Lamanya ku terkurung sepi
Membuang lamunan kehayunkan kaki
Masih adakah pintu maaf di hati
Untuk diriku ini

Sesampainya di depan rumahku
Ku hanya berdiri terpaku
Ingin bertemu... bersama dirimu
Tetapi rasa hati malu
Ku mengecewakanmu

Aku sedari ku insafi
Tak ingin lagi ku ulangi
Hidup di buih
Yang terasa menyiksa diri

Berikanlah aku pintu maafmu
Atas segala kesalahanku
Berikanlah aku kunci hatimu
Hulurkanlah jabat tanganku

Jangan samakan aku
seperti dahulu
Kini aku telah berubah
Dalam hidupku

Juwita

(...Tiada baris kata yang dapat kulafazkan
Untuk kugambarkan erti pengorbanan mu
Tiada syair indah, termampu kuciptakan
Yang setanding indahnya, belai kasihmu... Juwita...)

Akulah sebenarnya yang hanyut dan terlupa
Di dalam mengejar impian kukorbankan bahgia
Biarpun terluka hidup penuh gelora
Ketabahanmu meredakan badai

( 1 )
Di sebalik senyummu
Tersembunyi seribu lara
Kau layarkan jua
Bahtera cinta tiada sangsi
Tulus dan suci oh oh

( 2 )
Terima kasih padamu adinda
Kerna sudi memaafkan dosa silam
Dan sesungguhnya engkaulah permata
Menerangi hatiku yang kegelapan

Izinkan diriku... berjanji padamu
Akan kubela menghulur bahgia
Hingga ke akhirnya
Oh oh... kasihmu juwita...

( ulang 1, 2 )

Terima kasih pada mu adinda
Kerna sudi memaafkan diri ini
Juwita....

Bukan Ku Tak Sudi

Ku anggapkan semalam
Satu kenangan yang suram
Bila cinta kita putus di jalan

Ku harapkan impian
Menjadi Kenyataan
Namun aku kecewa...

Mudahnya waktu melafazkan janji
Engkau dan aku berdua serupa
Rupanya mentah di dalam mainan... percintaan
Telah pun ku bentangkan segalanya
Mencari entah dimana silapnya...
Jelas asmara kecundang jua...

( korus )
Bukan ku tak sudi kasih...
Untuk bersama mu bercinta lagi...
Kerna antara kita
Tidak sehaluan lagi...

Maafkan diriku sayang...
Menolak cinta mu kali ini...
Walau pun ku tahu...
Bersungguh benar hasrat hatimu...

Airmata Kasih

Ku layarkan bahtera ini
Kerna di dada terpatri cinta yang suci
Siapa sudi bertanya
Luka di hati adakah menitis lagi

( 1 )
Mengalir dalam jiwa
Tidak kelihatan di pandangan mata ooo...
Menerjang ruang rongga kosong tiba-tiba
Madu kasih tidak kesampaian oh...

( korus )
Airmata...
Tidak kan bisa merubah perjanjian
Andai kasih...
Harus berpisah kecundang di tengah jalan
Apakah...
Kita terpaksa berkorban demi cinta
Sampai masa...
Yang menentukan tangisan akan reda semula

( ulang 1, korus & korus )

Airmata tidak kan bisa
Merubah perjanjian
Sampai masa yang menentukan
Bahgia 'kan menjelma semula

Aduhai Seribu Kali Sayang

Berdosakah diri ku
Terpaksa melepaskan
Cintamu yg serapuh
Dahan nak kering usang

Yang akhir nya kan patah
Terhempas gemeretap
Oh sungguh memilukan
Tak dapat ku bayangkan

Setelah merelakan
Setelah kau bisikkan
Segugus janji janji
Tergamak kau mungkiri

Apakah sebenar yang terjadi
Hingga kau bersikap demikian
Sedangkan kau sesungguhnya percaya
Kasih ku tak berbelah bagi

Aduhai tak sanggup ku kenangkan
Semua telah nyata
Cintamu gurauan

Datang dan hilang
Semau hati mu
Itulah falsafah
Oh pegangan cinta mu

Namun harus kau ingat
Hati yang manakah
Selama nya kan sabar

Mengikat Janji

AJ:
Nak orang dagang mandi muara
Ramailah jugalah mencuci kain
Adik dipandang bertambah cahaya
Rasalah tidak ada yang lain
Rasalah tidak ada yang lain

RB:
Rumah rang agung beratap ijuk
Mengukir-ngukir salah panduan
Sungguhlah tuan pandai memujuk
Habislah manis sepah dibuang
Habislah manis sepah dibuang

AJ:
Beriak air tepi muara
Riak dek anak mandi bersama
Kalaulah adik tidak percaya
Hilanglah bulan hilanglah nyawa
Hilanglah bulan hilanglah nyawa

RB:
Ke kota riau jalan mendaki
Ramai didaki dek orang bagung
Tidaklah elok kita berjanji
Mungkin kan janji badan binasa
Mungkin kan janji badan binasa

AJ:
Gunung merapi tinggi puncaknya
Orang kuliti ke padang panjang
Kalau tak juga adik percaya
Alamat diri kan mabuk sorang
Alamat diri kan mabuk sorang

RB:
Berliku-liku jalan pun licin
Ruang di gertak air perigi
AJ: & RB:
Kalau begitu kehendak hati
Marilah kita mengikat janji
Marilah kita mengikat janji

Lembaran Terakhir

Bisikan keluhan hasrat hati
Diakhir jambangan kisah sedih
Katakan padanya aku pergi
Membawa derita sendiri

Rayuan suara hati hamba
Mengiring sesalan tak terhingga
Meratap menangis tiada guna
Yang lalu tak usah ditanya

Ku pergi dengan harapan
Cari teman seiring jalan
Ku nanti saat gemilang
Bila tercapai tujuan

Lembaran terakhir ku berikan
Tandanya berpisah dua insan
Tiada kandungan kata mesra
Hanya bingkisan kelana

Ingin Bersua

Kenapa aku berpisah
Darimu wahai adinda
Hatiku teringat saja
Tak dapat kau hendak kulupa

Ku pergi untuk pertiwi
Tinggal dinda yang dikasihi
Janganlah bersedih hati
Ku disini selalu mengingati

( korus )
Aku ingin bersua
Walaupun sekelip mata
Tapi kini tak berdaya
Kerna tugas yang masih ada

Padaku jangan dilupa
Tak lama akan kembali
Bersabarlah oh dinda
Untuk kita bertemu lagi

( ulang korus )

Fatwa Pujangga

T'lah kuterima suratmu nan lalu
Penuh sanjungan kata merayu
Syair dan pantun tersusun indah, sayang
Bagaikan madah fatwa pujangga

Kan kusimpan suratmu nan itu
Bak pusaka yang amat bermutu
Walau kita tak lagi bersua, sayang
Cukup sudah cintamu setia

( korus )
Tapi sayang sayang sayang
Seribu kali sayang
Ke manakah risalahku
Nak kualamatkan

Terimalah jawapanku ini
Hanyalah doa restu Ilahi
Moga lah Bang/Dik kau tak putus asa, sayang
Pasti kelak kita kan bersua

Bunga Kupuja Dipetik Orang

Ingin memetik bunga yang kembang
Untuk hiasan dalam jambangan
Apakah daya nasibku malang
Bungaku puja dipetik orang

Namunku takkan putus asa
Banyak mekar di dalam taman
Walau seribu tahun tak apa
Asalkan kembang jadi idaman

Sungguh kasihan
Bunga bermadu
Ditinggalkan kumbang
Sesudah layu
Apakah ini suratan
Dirimu sayang
Setelah layu
Tiada yang mahu

Dari itu ingatlah bunga
Jaga diri jagalah nama
Agar kamu tak dipersia
Oleh sang kumbang yang durjana

Berpisah Jauh

Sedih sanubariku
Terbayang di saat berpisah
Hujan yang menyiram di alam
Seakan samalah berduka

Bidukmu berlalu
Menuju ke pulau cita-cita
Tinggallah hanya aku yang bermain
Di bayangan impian saja

( korus )
Oh alangkah pilu rasa hati
Kini ku sunyi
Tak berteman lagi sayang
Bandingmu sukar diganti
Payah dicari

Harapan ku pinta
Gembiralah engkau di sana
Di pangkuan kasih ibunda sayang
Padaku kau lupakan jangan

( ulang korus )

Setahun Sudah Berlalu

Gurindam dan irama
Tidak lagi ku hiraukan
Setelah api cinta terpadam
Apa yang tinggal kini
Hanya sisa kesal kelmarin
Menjadi simfoni mendayu
Pada setiap malam minggu

Setahun sudah berlalu
Februari muncul kembali
Dengan kehangatan semalam
Tanpa ku sedari
Ku petik mawar merah
Ku tulis sekuntum puisi
Tapi sayang pada siapa kan ku beri

Kesepian memaksa
Ku lihat wajah di cermin
Terpandang aprut di muka ku
Bekas cinta yang lama
Apakah tidakkan hilang
Kesan cinta yang terus mendatang
Bermain di jiwa ini

Seribu Bintang

Ingin kupergi jauh darimu
Agar kukenal erti rindu ini
Ingin aku menyelami jiwamu
Agar kukenal dirimu kasih

1
Ingin aku membenci dirimu
Tapi kebencian tiada padaku
Walau apa yang kau sangkakan
Aku tetap cinta padamu

Telah lama kuhidup melara
Telah kugagal dalam bercinta
Kini kau datang dengan seribu bintang
Bintang yang dulu sembunyi
Bintang yang tiada bererti

Kalau kau sudi menyentuhi hatiku
Aku kan selalu dekat padaku
Tapi jangan kau hanya cuba
Untuk mempermainkan cintaku

( ulang 1 )

Jangan permainkan cintaku

Senyumlah Kuala Lumpur

Kuala Lumpur senyumanmu
Dipagi ini
Sungguh bererti
Kerna cinta bersemi lagi
Setelah kemarau panjang

Dilebuhraya
Dipapan tanda
Tergambar wajahmu
Dengan kalimat
Cinta untuk kita
Semoga kekal selamanya

( korus )
Bila ku bisikan puisi cinta
Dan tugu peringatan negara
Bagai tersenyum
Dalam diam bergembira
Memberi sokongan cinta
Agar bersinar sentiasa

Berganding tangan
Kita berdua
Menyusuri jalan
Ditengah kota
Sambil senandungkan lagu
Lagu kisah cinta lama

Bilaku bisikan puisi cinta
Dan tugu peringatan negara
Bagai tersenyum
Dalam diam bergembira
Memberi sokongan cinta
Agar bersinar sentiasa

Terimakasih kuucapkan
Oh kepadamu
Kuala Lumpur
Kerna kau telah temukan
Cinta antara kami berdua...

Sekuntum Mawar Merah Sebuah Puisi

Sekuntum mawar merah sebuah puisi
Untuk gadis pilihan oh.. di bulan Februari
Mulanya cinta bersemi dan kehadiran
Ribuan mimpi-mimpi oh di bulan Februari

Kemesraanmu dan cintaku
Berlagu dalam irama nan syahdu
Tapi mengapa hanya sementara
Cinta yang menyala padam tiba-tiba

1
Terkenang kembali lagu cinta lama
Kisah mawar merah berduri
Menusuk di hati
Haruskah ku ulangi

Apakah dosaku dan apakah salahku
Sering gagal dalam bercinta
Mengapa cinta hanya sementara
Api yang menyala padam tiba-tiba

( ulang dari 1 )

Sekuntum mawar merah sebuah puisi
Di bulan Februari

Nota Terakhir

Ada sekeping nota
Kujumpa di atas meja
Mencurahkan satu rahsia
Yang terpendam menjadi dendam

Mungkinkah selama ini
Kau hanya bersandiwara
Demi melupakan
Suatu tragedi
Yang tak mampu ku tempuhi

Nota yang terakhir ini
Cukup aku mengerti
Firasatku terhadapmu
Semuanya benar

Ku bukan seorang jutawan
Yang sebagaimana engkau inginkan
Ataupun seorang cendekiawan
Yang dapat mendidik seribu insan

Kerana

Di keheningan malam indah syahdu
Engkau merayu ku
Nada suara merdu
Kau ingin hidup bersama ku

Tetapi itu hanyalah khayalan
Bak mimpi lamunan
Daku kau tinggalkan
Bertahun dalam kegelapan

Hati ku kau lukakan
Setelah lama bermesraan
Dalam keseorangan
Diri mu dapat ku lupakan

Oh kini menjelma pula
Hadir mu yang telah dewasa
Wajahnya tak ubah
Seperti wajah mu menggoda merayu ku

Luka yang lama berdarah kembali
Tersua adikmu
Tapi tak mungkin ku
Menyintai gadis yang serupa dengan mu

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails